AKU SEJATI
Sudah menjadi watak manusia pada umumnya jika penderitaannya terasa ringan terhibur kalau dia melihat penderitaan orang lain. Hiburan yang paling enak baginya yang sengsara adalah melihat bahwa di sampingnya terdapat ramai orang yang lebih sengsara daripadanya. Mengapa begini? Inilah jahatnya sifat AKU yang menimbulkan rasa sayang diri, rasa hiba diri, perasaan-perasaan yang selalu berputar pada poros ke-AKU-annya. Contohnya yang lebih jelas, orang yang mempunyai keluarga tercinta sakit parah akan menderita kesengsaran batin yang hebat. Bagaimana kalau melihat ribuan orang lain sakit? Tentu tidak ada penderitaan batin seperti yang dirasakannya kalau keluarganya yang sakit. Timbul pertentangan-pertentangan dalam hidup antara manusia kerana saling membela AKU-nya. Timbul perang di antara negara kerana saling membela AKU-nya pula. Manusia menjadi tidak aman dan tidak tenteram hidupnya kerana dikuasai oleh AKU-nya inilah, tidak sedar bahwa yang menguasainya itu bukanlah AKU SEJATI, melainkan aku darah daging yang bergelimang nafsu-nafsu badani. Dengarlah betapa AKU SEJATI mengeluh dalam tangisnya Aku sudah bosan Aku sudah muak Terbelenggu dalam sangkar darah daging Setiap saat aku dipaksa Menyaksikan tingkah nafsu angkara Mempermainkan sangkar sampai gila Tawa-tangis..suka-duka Marah-sesal..suka-duka Bebaskan aku dari semua ini Manusia selalu merasa baik sendiri, bersih sendiri dan benar sendiri. Kerana ini para pemeluk agama menjadi saling mencurigai, saling memburukkan dan persatuan antara manusia makin parah. Semua agama adalah baik kerana mengajarkan kebaikan, namun sayang sekali, orang-orangnya yang menyalahgunakan sehingga pelajaran kebaikan seringkali dipergunakan untuk saling menghina dan saling menyalahkan. Orang yang merasa dirinya paling bersih adalah orang yang kotor kerana perasan diri paling bersih ini sudah merupakan kekotoran. Ada gambaran yang paling tepat untuk itu. Seseorang yang melihat tahi akan menutup hidungnya, merasa jijik dan muak, samasekali dia lupa bahwa di dalam perutnya sendiri mengandung penuh tahi. Orang yang merasa dirinya paling pintar sesungguhnya adalah sebodoh-bodohnya orang, kerana perasan diri pintar ini sudah merupakan kebodohan. Orang yang merasa dirinya paling kuat sesungguhnya adalah orang yang lemah, kerana kesombongannya akan membuatnya lengah. Kerana sifat mementingkan AKU-nya, manusia berlumba mengejar kemenangan dalam apapun juga, saling serang saling bunuh. Dalam perkelahian, yang mati dianggap kalah, yang hidup dianggap menang. Yang hidup ini agaknya lupa bahwa dia pun kelak akan mati apabila sudah tiba saatnya. Siapa dapat memastikan yang menang akan lebih bahagia daripada yang kalah dan mati? Kalau manusia ingat akan semua ini, manusia akan berfikir dulu sebelum merebutkan kemenangan. Manusia kehilangan kebebasan kerana terbelenggu oleh hukum-hukum yang diadakan manusia sendiri. makin lama manusia makin menjerat leher sendiri, membelenggu tangan kaki sendiri dengan hukum-hukum dan aturan-aturan sehingga beberapa ribu tahun lagi manusia tak dapat bergerak tanpa melanggar hukum. Betapa bayi takkan menangis begitu terlahir, menghadapi semua belenggu ini? Begitu terlahir, tubuhnya sudah dibelenggu kain-kain penutup tubuh, menyusul peraturan dan hukum-hukum yang tiada putusnya. Ada hukum ada pelanggaran, diperkenalkan yang buruk, mengerti tentang kesucian berarti mengerti tentang kedosaan. Menyesalkan keadaan hidup manusia, bukan sesekali menganjurkan agar semua orang melanggar hukum dan peraturan-peraturan yang sudah ada. Aku sendiri sampai sekarang masih memakai pakaian dan peraturan-peraturan masih tetap kupegang kerana seperti juga semua manusia, aku pun dihinggapi penyakit ke-AKU-an sehingga rela melakukan hidup dalam kepalsuan dan tidak wajar. Seperti semua agama, telah kukatakan mengajarkan segala kebaikan, merupakan pelajaran-pelajaran yang benar-benar tepat. Sayang, betapa sedikit manusia yang mematuhinya secara lahir batin, menyesuaikan pelajaran-pelajaran itu dalam sepak terjang hidupnya sehari-hari. Bukankah yang benar hanya mengejar kebenaran sedangkan seorang rendah hanya mengejar keuntungan. Maklum akan penyakit ke-AKU-an manusia sehingga perlu memperingatkan manusia yang selalu ingat akan keuntungan diri peribadi, keuntungan lahiriah. Kukatakan tadi bahwa begitu terlahir, bayi telah dibelenggu kain-kain penutup tubuh. Kalau pakaian dimaksudkan untuk melindungi tubuh, hal yang hanya timbul kerana kebiasaan, kerana sesungguhnya kalau tidak dibiasakan pun tidak apa-apa, apa hubungannya dengan kesusilaan dan kesopanan? Apakah yang dinamakan Aku yang sejati? Pertanyaan yang amat luar biasa. Bagaimana menjawabnya? Sudah banyak membaca. Apakah jawabannya yang tepat? Apakah itu AKU yang merupakan anugerah Tuhan seperti yang dimaksudkan dalam ajaran ataukah Roh Suci? Mana yang benar? Memikirkan pertanyaan aneh ini. Hatinya bicara sendiri. Hmm memang aneh. Apa gunanya? Apa untungnya kalau mengetahui AKU SEJATI? Membuang tenaga fikiran saja. Pula apapun juga jawabannya, siapa yang akan dapat memastikan apakah jawaban itu benar atau salah? Adakah manusia yang pernah melihatnya atau bertemu dengan AKU SEJATI itu? Mungkin ada. Kalau tidak ada mengapa disebut-sebut? Adanya disebut, tentu ada yang pernah mengalami bertemu dengannya. Jangan biarkan kepala menjadi pening memikirkan pertanyaan yang rumit itu. Jangankan mendapatkan jawaban, bahkan pertanyaan itu saja tidak dimengertinya. Tidak mengenal yang disebut Aku Sejati itu. Mendengar pun baru sekarang. YANG ADA ITU TIADA, KERANA YANG ADA ITU DIADAKAN OLEH FIKIRAN MANUSIA Jalan yang dapat dipergunakan sebagai jalan bukanlah Jalan yang sejati. Nama yang dapat dipergunakan sebagai nama bukanlah nama sejati. Tanpa Nama adalah awal Bumi dan Langit. Dengan Nama adalah ibu segala benda. Tidak Ada kalau kita ingin menyatakan rahsianya. Ada kalau kita ingin menyatakan keadaannya; keduanya berpasangan walau namanya berbeza; pasangan yang disebut amat ghaib pintu semua rahsia. Jawabannya 'Tidak ada apa-apa' Awal Langit Bumi adalah Tak Bernama. Jadi jelas bahwa yang dikatakan Aku Sejati itu sesungguhnya bukanlah yang sejati. Aku Sejati yang dimaksudkan itu hanyalah buatan fikiran manusia saja, jadi palsu kerana dia ada oleh fikiran yang mengada-ada. Yang sejati tentu tidak dapat disebut dengan nama. Adakah manusia di dunia ini yang sudah bertemu dengan Aku yang Sejati?Tentu saja ada. Nabi-nabi dan Raul-rasul di zaman dahulu tentu sudah tahu akan Aku Sejati itu, mungkin di zaman sekarang pun ada yang memiliki kesucian sedemikian tinggi sehingga dapat mengerti dan bertemu dengan Aku-nya yang Sejati.” Ah, hal mungkin tidak. Mengapa tidak mungkin? Aku yang bertemu dengan Aku-ku yang Sejati, habis siapa itu yang bertemu dan siapa pula yang ditemui? Apakah ada 2 Aku? Yang palsu dan yang sejati saling bertemu, yang palsu maupun yang sejati, hanyalah khayalan fikiran saja. Kerana fikiran mengingat akan pelajaran yang pernah dipelajarinya, pernah mendengar tentang Aku Sejati, mencarinya, timbullah bayangan Aku Sejati yang bukan lain juga khayalan fikiran sendiri belaka. Tahukah anda? Siapa yang sengsara, yang tidak bahagia, dia merindukan kebahagiaan, dia mengejar kebahagiaan. Setelah dia merasa mendapatkan kebahagiaan, kebahagiaan yang didapatkannya itu hanyalah kebahagiaan palsu hasil khayalan fikirannya belaka, tidak akan kekal. Orang bahagia tidak akan merasakan kebahagiaannya sudah menjadi satu. Kalau terpisah, berarti tidak bahagia dan kebahagiaan hanya menjadi renungan saja. Kebenaran bukanlah kebenaran kalau dinyatakan oleh mulut dan fikiran. Kebahagiaan bukanlah kebahagiaan kalau dinyatakan oleh fikiran. Aku Sejati pun bukan Aku Sejati kalau dinyatakan oleh fikiran. Semua adalah khayalan fikiran kerana pelajaran-pelajaran yang pernah didengar atau dilihatnya meniru-niru dan mengulang-ulang barang lama pusaka usang. Aku sendiri pun tidak mudah membebaskan semua yang menempel di dalam benakku. Fikiran merupakan kertas putih bersih dan kalau sudah terlalu penuh dengan coretan-coretan beraneka warna, tidaklah mudah untuk membersihkannya, walaupun bukan tidak mungkin. Selama kertas itu tidak kembali putih bersih dan kosong seperti semula, selalu akan menjadi kabur oleh bekas-bekas goresan, bahkan akan diselundupi goresan-goresan baru. Aihh, kini mengertilah mengapa kaum soleh memuji dan mengagumi kehidupan anak-anak yang bagaikan kertas putih belum ternoda oleh goresan-goresan kotor. Aku Sejati adalah bukan Aku Sejati, melainkan khayalan fikiran alias palsu. Yang dapat dinamakan itu hanyalah Aku Sejati atas dasar pelajaran yang pernah didengar dari seorang guru atau dari kitab, sehingga menciptakan Aku Sejati khayalan fikiran. Jadi jelas bahwa yang dinamakan Aku Sejati adalah bayangan khayalan fikiran, palsu. Seperti jawaban akal bulus tetapi dapat kurasakan kebenarannya. Bagaimana kalau dia tanya, ada atau tidakkah Aku Sejati? Percaya atau tidak percaya hanyalah merupakan kebodohan. Kalau kita ingin mengerti, kita harus melakukan penyelidikan dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Setelah kita mengerti, tidak ada lagi persoalan percaya atau tidak. Setelah kita melihat bahwa matahari terbit dari timur, tidak ada lagi persoalan percaya atau tidak, bukan? Setelah kita merasakan sendiri bahwa jantung kita berdenyut, tidak ada persoalan lagi apakah kita percaya atau tidak akan hal itu. Percaya atau tidak hanya timbul kalau kita belum mengerti dan tidak ada gunanya samasekali. Selama kita didorong keinginan mengerti apakah ada Aku Sejati, selama kita didorong keinginan mencarinya, kita tidak akan pernah mengerti tentang Aku Sejati atau Kebahagiaan atau Cinta Kasih atau sebutan suci lain lagi. Mari kita sama-sama menyelidikinya, dengan mengenal diri sendiri, mengenal nafsu-nafsu kita, mengawasi kesemuanya itu dan menyadari apa yang kita hadapi saat ini. Bebas dan bersihnya fikiran dari masa lampau dan semua goresannya melenyapkan sang aku yang selalu menjadi pusat segala pemikiran dan pergerakan manusia sehingga timbullah pertentangan-pertentangan kerana perpisahan dan pemecahan-pemecahan antara aku dan engkau dan dia dan mereka. |

